ACEH TENGAH | Kondisi memprihatinkan menyelimuti kehidupan para petani kopi di dataran tinggi Gayo. Akibat terjangan bencana alam yang meluluhlantakkan infrastruktur perkebunan dan memutus akses jalan selama hampir tiga pekan, ekonomi masyarakat setempat mengalami kelumpuhan total. Produk pertanian unggulan yang menjadi tumpuan hidup warga kini membusuk di pohon karena tidak adanya sarana transportasi dan ketersediaan bahan bakar yang langka untuk proses pascapanen.
Bencana ini tidak hanya merusak fisik lahan, tetapi juga menghancurkan rantai distribusi yang selama ini menopang ekonomi keluarga. Lahan yang kini tertutup material pasir dan tanah akibat longsor membutuhkan waktu pemulihan hingga bertahun-tahun agar bisa kembali produktif. Situasi ini diperparah dengan absennya aktivitas jual beli di tingkat petani, yang berujung pada anjloknya harga komoditas secara tidak wajar hingga ke titik yang sangat merugikan produsen. Di sisi lain, isu mengenai kerusakan lingkungan akibat praktik pembalakan liar yang diduga masih terus terjadi di balik legalitas formal, menambah daftar panjang kekecewaan masyarakat terhadap minimnya perlindungan terhadap ekosistem yang semestinya menjadi benteng pertahanan alami dari bencana.
Kejadian yang puncaknya dirasakan oleh masyarakat secara masif pada September 2026 ini memaksa banyak warga untuk mengungsi dan kehilangan tempat tinggal serta mata pencaharian mereka dalam sekejap. Sebagian petani bahkan harus merelakan hasil jerih payah selama puluhan tahun musnah dalam hitungan menit. Hingga saat ini, mereka terpaksa harus berjuang membangun kembali akses jalan secara swadaya dengan kemampuan dan sumber daya yang sangat terbatas. Mereka menaruh harapan besar agar pemerintah tidak sekadar menebar janji program rehabilitasi yang bersifat administratif, melainkan hadir dengan langkah konkret yang mampu memulihkan kehidupan rakyat dari titik nol. (*)
















